Rektor ISBI Yang Sederhana

DR.Ir. Mirza Irwansyah,MBA (baju kemeja putih) di ruang Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh.

"Saleum. Bu D’Nong ada di Pameran di Taman Budaya pagi ini?" Tepat pukul 07.30 WIB pesan itu masuk ke whatApp saya. Pesan dari Doktor Mirza Irwansyah, Rektor ISBI Aceh itu segera saya balas, "Ada bang. Pukul berapa mau datang?"

Saya yang sedang berkemas ke kantor menyegerakan pergi melupakan sarapan pagi yang sudah saya siapkan di atas meja.

"Jam 8:45 saya kesana, mau diskusi dengan Dek Nong juga" Balasan Pak Rektor saya terima ketika saya sudah dalam perjalanan ke kantor.

"Baik". Jawab saya. 

Ruang galeri baru dibuka untuk umum pukul 09.00 WIB. Berarti ada waktu 15 menit untuk diskusi. Benar, pukul 8.45 Satpam kantor mengabarkan beliau sudah tiba. Ditemani Kepala Tata Usaha (KTU) dan staff perbincangan kami mengarah ke kerjasama ISBI dengan Taman Seni dan Budaya pada masa yang akan datang.

"Segera kita rancang MoU." Pungkas beliau dengan mata berbinar. "Insya Allah kerja kebudayaan dengan kerjasama yang baik akan kita jalankan. "

Ruang kantor yang sederhana telah merekam perbincangan kami. Meja dan kursi, dinding-dinding Insya Allah tak lagi sunyi dengan derap langkah kami. Kerja keras masih rencana. Mungkin saja rencana kami seperti derap langkah di atas jalan yang kami lalui menuju lobby gedung tertutup Taman Seni dan Budaya.

Jalan yang berkerikil tak rata yang kami tapaki bersama seorang Rektor yang sederhana. Jalan menuju galeri yang memajang lukisan para Pelukis Aceh terkemuka.

Kami bergerak ke ruang lobby Taman Budaya yang disulap menjadi galeri seni oleh teman-teman dari Galeri Nasional Indonesia. Suasana masih sepi. Di pintu masuk, kami disambut oleh pelukis Yusrizal Ibrahim Lamno. Tanpa katalog, bung Yusrizal memandu Rektor ISBI menjelaskan dan memberi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Pak Mirza Hasan.

Kami mencari-cari karya pelukis yang dosen di Institute Seni Budaya Indonesia Aceh yang ikut dipamerkan di sana. Ternyata meski tanpa katalog, Pak Mirza dapat menemukan karya staf nya yang ternyata sama dengan yang dicantumkan di katalog yang beliau dapatkan beberapa waktu setelahnya.

Selaku Pimpinan tertinggi di ISBI Aceh, besar harapan Pak Mirza untuk bekerjasama dengan Taman Seni dan Budaya agar produk seni yang dihasilkan oleh mahasiswa  ISBI dapat diapresiasikan oleh masyarakat. Kehadiran beliau ke Taman Budaya pada pagi yang cerah dan sejuk itu membuat kami percaya bahwa Taman Seni dan Budaya akan menjadi rumah besar seniman berkarya.

Terima kasih bang Mirza. Maaf, saya lebih memilih memanggil "Bang" karena meski beliau seorang tokoh tetapi dalam berkomunikasi beliau sangat kekeluargaan dan sederhana.

 


  • Share on:

LEAVE A COMMENT

image title here

Ads