Pengembaraan & Perjumpaan Puisi Mahwi Air Tawar

Dami buku Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi karya Mahwi Air Tawar. Ist

Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi merupakan judul buku terbaru Mahwi Air Tawar, penyair kreatif Indonesia kelahiran Sumenep, Madura 1983.

Dalam buku ini, penyair yang pernah terlibat dalam kurator antologi puisi Perdamaian 8 Negara yang diterbitkan Lembaga Kebudayaan Lapena, Aceh, mengangkat tema-tema sejarah, kota-kota yang pernah ia kunjungi berikut sejarah yang melatarinya yang menurutnya, penting ditulis dalam karya sastra, puisi khususnya.

Karena hampir mustahil sebuah kota/wilayah tegak berdiri tanpa latar dan sejarah termasuk karya sastra. Sebuah kota yang mengabaikan sejarah (literasi), maka kota itu tak lebih hanya akan menjadi bayang-bayang dari kota-kota sekitarnya yang lebih dulu mengakar.

Dalam buku ini, ada tiga puisi tentang kota/wilayah yang ia masukkan, di antaranya Aceh, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Madura, tanah asal usul kelahiran penyair yang juga redaktur Majalah Sastra Horison ini.

Selain tentang tiga kota di atas, Mahwi Air Tawar juga memasukkan puisi tentang sastrawan terkemuka Indonesia, Ahmad Mustofa Bisri, Umbu Landu Paranggi, Nh. Dini, Zaini KM, dan penyair sekaligus akedemis, Djoko Saryono.

Tentang sejumlah tokoh sastra yang ditulis secara panjang lebar oleh penyair ini menarik, karena dalam puisi ini ia tak hanya mendedah pemikiran, karya, dan kiprah mereka baik dalam membina calon penyair maupun perannya dalam sebuah komunitas sastra.

Tak heran bila seorang kritikus asal Jerman, Berthold Damshäuser, dalam Jurnal Sajak menyebut Mahwi sebagai penyair muda berbakat yang dalam puisi-puisinya bersajak, artinya, puisi-puisi penulis buku kumpulan puisi Taneyan, Tanah Air Puisi-Puisi Tanah Air, Lima Guru Kelana, dan buku kumpulan cerpen Karapan Laut dan Blater ini tetap mempertimbangkan rima, metrum, yang mulai jarang ada dalam puisi-puisi modern Indonesia.

Bahkan kritikus dan pelukis Malaysia, Siti Zainon Ismail, merasakan getaran emosi ketika membaca puisi tentang penyair Umbu Landu Paranggi yang ditulis oleh penyair Mahwi Air Tawar.

“Saya merasakan getaran masa lalu bersama Umbu, penyair Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, yang tak lain adalah murid-murid Umbu Landu Paranggi sendiri. Usai membaca puisi itu, saya merasa seperti diajak berjalan-jalan menyusuri Malioboro tahun 1970-an,” aku Siti Zainon Ismail dalam sebuah chatting.    

Buku puisi dengan judul Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi ini diterbitkan oleh penerbit Lapena Aceh dan Sulur, Yogyakarta.

“Kami merasa perlu menerbitkan puisi-puisi Mahwi Air Tawar, bukan karena dalam buku ini ia menulis tentang konflik Aceh, tapi karena ia merupakan aset bagi sastra Indonesia,” ungkap Helmi Hass, Direktur Eksekutif,  Lapena Aceh. [*]

     


  • Share on:

LEAVE A COMMENT

image title here

Ads