• Home
  • Ekonomi
  • Haizir, Putra Alur Pinang Jadi Dirut Bank Aceh Syariah

Haizir, Putra Alur Pinang Jadi Dirut Bank Aceh Syariah

Haizir Sulaiman, SH Dirut Bank Syariah Aceh. Foto/Bank Aceh Syariah

TAK PERNAH terbayangkan bagi Haizir Sulaiman (55), alumni Fakultas Hukum Unsyiah 1988 ini, suatu hari nanti akan menjadi orang nomor satu di Bank Aceh Syariah. Haizir merupakan sarjana hukum kedua yang dipercayakan menjadi Dirut Bank Aceh, sejak 45 tahun lalu berdiri.

Dirut Bank BPD Aceh pertama pada tahun 1973, Abdullah Hasan, SH. Beliau merupakan pejabat kantor gubernur yang ditunjuk menjabat dirut hingga tahun 1980. Setelah itu dijabat oleh Drs Syamsunan Mahmud, putra Aceh Barat selama 14 tahun dari tahun 1980 hingga 1994.

Menurut Syamsunan Mahmud, sejak masuk menjadi pegawai Bank BPD Aceh tahun 1990, Haizir merupakan salah seorang pegawai cerdas. Bila di tes untuk naik pangkat nilainya pasti A dan sangat piawai dalam menangani kasus perbankan.

“Haizir itu masuk ke BPD saat saya dirut, dia ahli hukum perbankan dan dengan baik menangani berbagai kredit bermasalah.Sejak itu, saya melihat dia memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan memiliki wawasan yang luas. Jadi tidak heran, bila sekarang menjadi Dirut Bank Aceh Syariah,”katanya bahagia

“Saya berharap Haizir mampu meningkatkan kebersamaan lebih baik lagi dan bisa merangkul semua orang,”tambah Syamsunan Mahmud yang mengaku senang mendapat undangan untuk menghadiri acara pelantikan sang bawahannya sambil menutup handphone genggamnya.

                                                                                    ***

Perjalanan panjang Haizir akan digapainya, Senin besok (8/10/18), ketika Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah  melantik putra Desa Alur Pinang Kecamatan Samadua Aceh Selatan sebagai Direktur Utama Bank  Aceh Syariah di Pendopo Gubernur Aceh.

Kepercayaan kepada Haizir untuk menjadi tampuk pimpinan bank milik pemda Aceh dan kabupaten/kota ini, merupakan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Syariah Aceh, 28 Februari 2018 lalu, semua pemegang saham dengan suara bulat memilih Haizir sebagai dirut untuk empat tahun ke depan, periode 2018-2022.

Haizir terpilih menjadi dirut ketujuh menggantikan posisi alm Busra Abdullah SE yang meninggal dunia, 29 Desember 2017 lalu. Bank Aceh berdiri sejak tahun 1973, dan Haizir merupakan dirut kedua sejak Bank Aceh resmi dikonversi dari konvensional ke syariah sejak tahun 2016.

Meski menyelesaikan pendidikan Magister Hukum (MH) pada tahun 2009, namun Haizir jarang sekali memakai gelar tersebut di belakang namanya. Dia lebih suka hanya memakai titel sarjana hukum saja.

Dua tahun selepas kuliah, pada tahun 1990, Haizir diterima sebagai Pelaksana Administrasi di Bank Aceh. Karirnya terus menanjak pada tahun 1992, ia ditunjuk sebagai Supervisor Kredit Umum dan lima tahun kemudian jadi Pjs Kepala Bagian Umum. Pada tahun 1999 dipercayakan menjadi Kepala Bidang Legal dan Kredit Support.

Ketika Bank Aceh di bawah kepemimpinan Aminullah Usman (2000-2010), manajemen melakukan ekspansi bisnis dengan membuka Unit Usaha Syariah (UUS), Haizir dipercayakan sebagai Pemimpin Cabang Syariah Banda Aceh, sekaligus orang pertama yang memimpin Unit Usaha Syariah (UUS) di Bank Aceh.

Bagi lelaki kelahiran 15 April 1963 ini, sistem perbankan syariah bukanlah hal yang baru. Di masa kepemimpinannya sebagai pemimpin cabang, kinerja keuangan UUS Bank Aceh bahkan naik cukup tajam.

Dengan modal awal hanya Rp 5 miliar, dalam kurun waktu lima tahun (2009) saja, UUS Bank Aceh telah berhasil mencatatkan aset sebesar Rp 816 miliar, menguasai 42,37 persen dari total aset perbankan syariah di Aceh yang sebesar Rp 2,04 triliun.

Keberhasilan Haizir meraup keuntungan berlipat-lipat itu, menambah kepercayaan pemegang saham untuk memberi jabatan yang lebih besar kepadanya. Pada Tahun 2010 ia mulai masuk dalam jajaran direksi, dilantik sebagai Direktur Syariah dan SDM.

Menjelang Bank Aceh dikonversi ke Syariah pada tahun 2015, aset UUS Bank Aceh telah mencapai Rp 2,58 triliun dengan kemampuan memperoleh laba sebesar Rp 51,74 miliar. Penyaluran pembiayaan telah mencapai sebesar Rp 1,7 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun mencapai Rp 2,089 triliun.

Hasrat Haizir untuk memperjuangkan terwujudnya Bank Aceh Syariah tidak pernah berhenti di tengah jalan, meski upaya penolakan deras datang dari sejumlah jajaran direksi lainnya. Bahkan demi mencapai cita-citanya, Haizir siap mempertaruhkan jabatannya.

“Bagi saya tidak ada gunanya bekerja di Bank Aceh kalau sistem syariah tidak terwujud. Barangkali, inilah salah satu perjuangan saya yang paling berharga bagi agama selama hidup saya,” kata Haizir kepada media dalam tahun 2015 lalu.

Cita-cita itu, akhirnya mendapat dukungan semua pihak dan pada tahun 2016 Bank Aceh resmi dikonversi dari sistem konvensional ke sistem syariah. Waktu terwujud, jabatan Haizir sebagai Direktur Syariah dan SDM dihilangkan dan diganti menjadi Direktur Dana dan Jasa.

“Impian saya akhirnya Allah SWT mengabulkannya. Ini sebuah kebahagian yang tak ternilai bagi saya,” sebut Haizir dengan gurat wajah ceria.

Mulai Senin besok, 8 Oktober 2018, suami Hj Cut Nurul Hayati ini akan memimpin lokomotif Bank Aceh Syariah di tengah nilai tukar rupiah telah menembus angka Rp 15.000,- per dollar AS. Rakyat Aceh berharap, gerbong lokomotif Bank Aceh Syariah terus menembus tanjakan dollar tanpa henti untuk meraih pundi-pundi aset lebih baik lagi.

Selamat bertugas sang dirut, semoga bisa meraih impian kedua menjadikan Bank Aceh Syariah terdepan dalam menjawab tantangan dahsyat industri 4.0.

Helmi Hass

 

 


  • Share on:

LEAVE A COMMENT

image title here

Ads