• Home
  • Opini
  • Dominasi Senyap Parpol Islam di Pilkada Serentak

Dominasi Senyap Parpol Islam di Pilkada Serentak

Fitriyan Zamzami

Oleh Fitriyan Zamzami*

Partai-partai berbasis massa Islam secara kumulatif banyak memenangkan pasangan calon yang diusung maupun didukung dalam perhelatan pilkada serentak 2018, terutama di tingkat pemilihan gubernur. Sejumlah kader parpol berbasis massa Islam, baik sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur, juga berhasil unggul merujuk hitung cepat.

Dari 17 pemilihan gubernur (pilgub) tahun ini, paslon yang diusung PKB menang di enam daerah, sedangkan PAN memenangkan paslon yang mereka dukung di 10 daerah. Jumlah tersebut adalah yang terbanyak, bersanding dengan calon yang didukung Nasdem dalam berbagai pilgub tahun ini.

Sementara, PPP memenangkan calon yang mereka dukung di tujuh provinsi. Jumlah itu persis dengan jumlah kemenangan calon yang didukung PKS.

Pada tingkat pilgub, satu-satunya partai pemuncak pemilihan legislatif 2014 yang juga memuncaki jumlah kemenangan paslon yang mereka usung adalah Golkar di sembilan daerah. Sementara, PDIP hanya menang di empat provinsi, Gerindra di tiga provinsi, dan Demokrat di enam provinsi.

Pada tingkat pasangan calon, di pilgub NTB 2018, kader PKS Zulkieflimansyah sebagai calon gubernur berhasil memuncaki hasil hitung cepat. Merujuk hitung cepat LSI Denny JA, pasangan Zulkieflimansyah-Sitti Rohmi Djalilah unggul dengan 30,16 persen suara. Diikuti paslon M Suhaili-Muhammad Amin sebesar 28,86 persen dan paslon Ahyar Abduh-Mori Hanafi dengan suara 24,77 persen.

Selain pada Zulkieflimansyah, nuansa Islami juga kental pada pasangan ini, mengingat Sitti Rohmi Djalilah merupakan kader yang diajukan Nahdlatul Wathan, ormas Islam terbesar di NTB. Ia juga merupakan kakak kandung Gubernur NTB TGB Zainul Majdi.

Pasangan Edy Rahmadi-Musa Rajekshah juga unggul di Pilkada Sumut menurut hitung cepat LSI Denny JA. Mereka memperoleh 56,52 persen suara mengalahkan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus. Meski sejauh ini keduanya belum resmi menjadi kader, mereka kerap terlihat mengenakan jaket putih PKS selama kampanye, sehubungan partai itu adalah salah satu yang paling getol menyokong Edy-Musa.

Dalam pidato menyambut keunggulan merujuk hitung cepat kemarin, tampak juga Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain yang berperan penting dalam gerakan pemidanaan kasus penodaan agama oleh mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Di Riau, lembaga riset dan konsultan politik Pollmark Indonesia dalam hitung cepatnya menyatakan, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Riau Syamsuar-Edy Nasution unggul dalam pilgub Riau 2018 dengan perolehan suara mencapai 38,17 persen. Syamsuar merupakan kader PAN dan diusung oleh parpol tersebut bersama PKS dan Nasdem.

Di Sumatra Selatan (Sumsel), hitung cepat LSI Denny JA dan Puskaptis menunjukkan keunggulan tipis pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya atas pasangan Dodi Reza Alex-Giri Ramanda Kiemas. LSI menempatkan keunggulan Herman-Mawardi pada angka 35,91 persen berbanding 31,76 persen. Sedangkan, Puskaptis menghitung, Herman Mawardi memperoleh 34,23 persen dibandingkan dengan 34,04 persen yang diperoleh pasangan Dodi-Giri.

Herman Deru mula-mulanya dilamar PAN untuk maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada Sumsel 2018. Belakangan, Nasdem dan Hanura ikut mengusung saat pendaftaran sebagai calon.

Sementara, PPP berhasil menempatkan kader mereka, UU Ruzhanul Ulum, mendampingi Ridwan Kamil sebagai calon gubernur yang unggul dalam hitung cepat. Pasangan itu menurut sejumlah hitung cepat unggul sekitar 2 hingga 3 persen dari pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra dan PKS.

Pergerakan mesin partai PKS pada pekan-pekan menjelang pencoblosan disebut sejumlah pengamat mendongkrak raihan Sudrajat-Syaikhu yang sebelumnya sempat disurvei hanya memiliki elektabilitas 7 persen.

PKS juga menempatkan kader mereka, Hadi Mulyadi, sebagai calon wakil gubernur Kalimantan Timur mendampingi Isran Noor. Pasangan itu menurut hitung cepat juga unggul di Pilkada Kaltim 2018.

Di Jawa Tengah, pasangan Sudirman Said dan kader PKB Ida Fauziyah memunculkan sedikit kejutan dengan mementahkan sejumlah hasil survei. Mereka berhasil memperoleh sekitar 44 persen suara dalam hitung cepat, melonjak tajam dari hasil berbagai survei sebelum pilkada yang mentok di angka belasan. Tidak hanya aktif di PKB, Ida Fauziah juga aktivis Muslimat Nahdlatul Ulama.

Sedangkan, di Lampung, paslon Arinal Djunaidi-Chusnuniah unggul dalam hitung cepat lembaga survei Cyrus Network pada Pilkada Lampung dengan perolehan 38,9 persen. Pasangan itu diusung Golkar, PKB, dan PAN, sementara Chusnuniah merupakan kader PKB.

Peneliti politik senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai faktor kader partai politik Islam terhadap suara partai politik Islam turut memengaruhi hasil pilkada serentak 2018 ini. Menurut dia, kemenangan sejumlah pasangan calon yang lekat dengan figur dalam parpol Islam juga menyumbangkan suara bagi pasangan calon.

"Jadi, kita memang tidak bisa memandangnya secara hitam putih. Tapi, ya, kalau format, itu idealnya gabungan antara nasional dan Islam," ujar Syamsudin saat dihubungi wartawan, Rabu (27/6).

Karena itulah, menurut dia, kerja sama antara kader parpol Islam berperan penting dalam proses pengambilan suara di parpol Islam.

Peneliti dari LIPI lainnya, Siti Zuhro, tidak menyangkal bahwa parpol Islam dari segi kadernya sangat memengaruhi hasil perolehan suara dalam pilkada tahun ini. Kendati demikian, ia menyayangkan belum ada soliditas di antara parpol-parpol Islam.

"Mereka (parpol Islam) jalan sendiri-sendiri sehingga tidak mampu memenangkan pilkada 2018 secara telak. Padahal, kalau parpol-parpol bisa bersatu, dampaknya akan jauh lebih signifikan," kata Siti Zuhro

*) Penulis Redaktur Republika

 


  • Share on:

LEAVE A COMMENT

image title here

Ads